lampung | 20 November 2025 — Bagi Orang Papua, kreativitas bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan cara menyatakan jati diri dan keberadaan di ruang publik. Kesadaran inilah yang melanda Komunitas Mahasiswa Papua Se-Sumatera (KOMPASS) menyelenggarakan Pelatihan Desain Grafis Ke-II secara berani sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas digital dan kreativitas visual mahasiswa Papua di tanah rantau.
Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB hingga selesai ini menjadi ruang belajar kolektif bagi mahasiswa Papua untuk membangun kemampuan komunikasi visual, memperkuat identitas digital, serta menjalin jejaring kreatif lintas daerah di Sumatra.
KOMPASS menghadirkan M. Aditya Putra, Founder Lampung Geh, sebagai pemateri utama. Dalam materinya, Aditya menekankan bahwa desain grafis merupakan media komunikasi yang efektif di era digital dan membuka ruang luas bagi generasi muda Papua untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan pesan sosial secara kreatif.
“Jangan pernah berhenti untuk bereksperimen dalam desain grafis,” pesannya kepada peserta.
Bagi mahasiswa Papua, desain grafis tidak hanya dipahami sebagai keterampilan visual, tetapi juga sebagai alat representasi budaya dan medium yang mewakili realitas kehidupan. Hal ini ditegaskan oleh Koordinator Departemen Komunikasi dan Informasi KOMPASS, Anderian Kamo , yang menyampaikan bahwa desain grafis dapat menjadi sarana komunikasi pelajar Papua kepada masyarakat luas.
“Desain grafis adalah tempat berekspresi, berkoordinasi, dan berkreasi untuk komunikasi dan informasi,” ujarnya.
Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 50 mahasiswa Papua dari berbagai daerah di Sumatra, seperti Aceh, Lhokseumawe, Medan, Riau, Padang, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Lampung. Peserta mempelajari unsur dasar desain grafis, mulai dari tipografi, warna, tata letak, hingga komposisi, serta praktik menggunakan aplikasi desain untuk kebutuhan media sosial dan aktivitas organisasi.
KOMPASS menilai keterampilan desain grafis sebagai soft skill penting bagi mahasiswa Papua, baik untuk penguatan organisasi, kampanye sosial, maupun persiapan menghadapi dunia kerja. Lebih dari itu, kreativitas visual dipandang sebagai cara membangun narasi Papua dari sudut pandang generasi mudanya sendiri.
Melalui pelatihan ini, KOMPASS menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua, khususnya di bidang teknologi kreatif.
“Kami mendorong mahasiswa menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sarat makna budaya, pesan sosial, dan identitas Papua,” tegas Anderian.
Bagi Orang Papua, ruang digital adalah ruang perjuangan baru. Melalui desain grafis, mahasiswa Papua berupaya menghadirkan narasi positif tentang Papua—dibangun oleh generasi mudanya sendiri, melalui kreativitas, kolaborasi, dan inovasi. Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju program pengembangan kompetensi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Sadar,Bangkit, Bersatu, & Lawan
Komunitas Mahasiswa Papua Se-Sumatera (KOMPASS) Gas teruss