Medan, Sumatera Utara—Komunitas Mahasiswa Papua Se-Sumatera (KOMPASS) dan Ikatan Mahasiswa Papua Sumatera Utara (IMP SUMUT) merayakan Dies Natalis ke-13 IMP SUMUT dan ke-12 KOMPASS di Kota Medan, Pada 14/02/2014 pukul: 13:00 – 19:22 WIB
Perayaan ini dirangkaikan dalam tiga agenda utama, yakni peringatan HUT IMP SUMUT, HUT KOMPASS, serta tradisi Bakar Batu (Barapen) dan Fun futsal sebagai simbol kebersamaan dan identitas budaya Papua.

Anderian Kamo sebagai ketua umum KOMPASS mengatakan bahwa: “Hari ini, 14 Februari 2026, genap 12 tahun perjalanan KOMPASS dan 13 tahun IMP SUMUT. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat demikian juga IMP SUMUT. Ia adalah rentang cerita tentang perjuangan, dinamika, perbedaan pendapat, jatuh-bangun kepengurusan, dan semangat yang terus dijaga agar tidak padam“
Dies Natalis bukan sekedar perayaan. Ia adalah momen untuk berhenti sejenak dan bertanya secara jujur:
1. “Apakah KOMPASS masih setia pada alasan awal ia didirikan?
2. Apakah suara pelajar Papua di Sumatera semakin kuat, atau justru melemah karena rutinitas seremonial?, Ujar Kamo di muka umum
Wilem tukmeap selaku Ketua Umum IMP SUMUT menyampaikan:”Selama 12 tahun, KOMPASS telah menjadi rumah bagi mahasiswa Papua di tanah rantau sebagai ruang untuk bertumbuh, ruang untuk belajar, dan ruang untuk solidaritas.”
“Sebab, Rumah yang baik bukan hanya yang ramai, melainkan yang mampu membentuk karakter, melahirkan gagasan, dan berani melakukan evaluasi diri” kata wilem
Senioritas KOMPASS & IMP SUMUT menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi mahasiswa Papua di tanah rantau untuk memperkuat solidaritas dan meningkatkan kapasitas akademik.
Prosesi Bakar Batu menjadi momen yang paling dinantikan. Tradisi khas Papua tersebut melambangkan persaudaraan, kebersamaan, dan rasa syukur atas perjalanan organisasi selama ini.
Melalui perayaan Dies Natalis ini, KOMPASS dan IMP SUMUT menegaskan komitmen untuk terus menjaga persatuan mahasiswa Papua di Sumatera serta memberikan kontribusi positif dalam lingkungan dan masyarakat.
Sadar, Bangkit, Bersatu, dan Lawan
KOMPASS_Gas terus
Penulis “Anderian Kamo“
Photo; Rikardus Pihahepay Kegou