Sumatera, 27 Februari 2026 — Malam itu bukan malam biasa. Pukul 19.00 WIB, 45 mahasiswa Papua dari berbagai wilayah di Pulau Sumatera berkumpul dalam forum keberanian Badan Pengurus Pusat (BPP) KOMPASS. Dari sekitar 300 mahasiswa Papua yang ada di Sumatera, mereka yang hadir bukan sekedar peserta karena mereka adalah bagian dari Arah.
Forum ini bukan hanya pemaparan program kerja. Ini adalah ruang konsolidasi. Ruang kejujuran. Ruang untuk bertanya: siapa kita dan mau ke mana kita melangkah?
Ketua KOMPASS, Anderian Kamo, membuka forum dengan nada yang tidak biasa. Ia tidak memulai dengan laporan teknis atau daftar kegiatan. Ia memulai dengan pertanyaan yang menggugah.
“Hari ini saya tidak ingin berbicara panjang lebar tentang program kerja. Saya ingin berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam: tentang siapa kita dan ke mana kita ingin melangkah.”
Ia menegaskan bahwa KOMPASS bukan sekedar nama organisasi.
“KOMPASS adalah arah. Jika kompas rusak, hilang hilang. Jika nilai kita rusak, organisasi kehilangan makna.”
Suasana forum berubah menjadi reflektif. Diskusi yang muncul bukan hanya soal agenda kegiatan, tetapi tentang komitmen dan konsistensi. Tentang keberanian untuk bekerja, bukan sekadar berbicara.
Dalam pemaparan tersebut, BPP menyampaikan fokus penguatan SDM, konsolidasi internal, serta kegiatan intelektual dan budaya sebagai fondasi pembinaan kader. Namun Ketua KOMPASS mengingatkan bahwa program sehebat apa pun tidak akan berarti tanpa eksekusi.
“Program kerja yang bagus tidak otomatis membuat organisasi besar. Yang membuat organisasi besar adalah eksekusi dan konsistensi.”
Ia bahkan menantang seluruh peserta forum.
“Kalau program hanya berhenti di slide presentasi, ia hanya akan menjadi dokumen. Kalau tidak dijaga bersama, ia akan menjadi arsip, bukan gerakan.”
Diskusi berlangsung hidup. Anggota bertanya. Mengkritisi. Memberi masukan. Tidak ada keheningan yang pasif. Yang ada adalah tanda bahwa organisasi ini masih bernapas.
“Organisasi yang hidup adalah organisasi yang berpikir,” tegasnya.

Lebih jauh lagi, ia mengingatkan bahwa kerja kolektif bukanlah slogan.
“Jangan hanya memukul. Ambil bagian.Organisasi ini tidak berdiri di atas satu orang. Ia berdiri di atas kesadaran kolektif.”
Pesan itu menjadi titik tekan forum malam itu. Bahwa KOMPASS bukan ruang status keanggotaan, melainkan ruang pembentukan karakter generasi.
“Papua tidak akan berubah hanya dengan keluhan. Ia berubah dengan kerja nyata.”
Di akhir forum, tidak ada euforia berlebihan. Tidak ada tepuk tangan kosong. Yang ada adalah kesadaran baru: bahwa program kerja telah disepakati, tetapi tanggung jawab baru saja dimulai.
Semangat yang dibangun malam itu menegaskan satu hal — KOMPASS tidak sedang membangun kegiatan satu periode. KOMPASS sedang membangun karakter generasi.
Dan seperti yang ditegaskan Ketua KOMPASS sebelum menutup forum:
“KOMPASS bukan sekedar rencana. KOMPASS adalah aksi.”
Forum ditutup dengan penegasan komitmen bahwa KOMPASS harus bergerak sebagai organisasi aksi, bukan sekadar rencana. Semangat kolektif yang terbangun diharapkan menjadi energi baru dalam menjalankan program kerja secara nyata dan bertanggung jawab.
Sadar, Bangkit, Bersatu, Lawan
KOMPASS gas terus