Di tanah yang disebut kaya,
ketika mama menggali ubi dengan tangan gemetar,
sementara kekayaan mengalir dari perut bumi,
maka kita patut bertanya:
untuk siapa sebenarnya kekayaan itu ada?
Sebab tanah menyimpan emas,
tetapi tidak semua anak memiliki pena;
sebab hutan menyimpan kehidupan,
namun tidak semua mama memiliki ketenangan.
Jika pembangunan hanya meninggalkan beton,
sedangkan manusia kehilangan rumah,
maka kemajuan hanyalah angka
yang tumbuh tanpa hati nurani.
Ketika anak Papua berjalan lima kilometer tanpa sepatu,
sementara papan tulis mengumumkan Otsus Berhasil,
maka di antara kenyataan dan pernyataan,
ada kebenaran yang belum selesai dibicarakan.
Bukan karena kami menolak perubahan,
melainkan karena kami ingin perubahan
yang tidak hanya terlihat dari jalan raya,
tetapi juga terasa di ruang kelas,
di meja makan, dan di masa depan anak-anak kami.
Pada 1962, sejarah mencatat New York,
pada 1962, Roma menyimpan percakapan,
dan pada 1969, sebanyak 1.025 orang berbicara
atas nama jutaan jiwa.
Oleh karena itu, sejarah bukan sekadar angka,
melainkan ingatan yang terus meminta penjelasan;
bukan sekadar tanggal dalam buku,
melainkan pertanyaan tentang suara
yang merasa belum sepenuhnya didengarkan.
Jika persaudaraan hanya indah di atas pidato,
tetapi menyakitkan dalam kenyataan,
maka kata saudara kehilangan maknanya.
Jika kesejahteraan hanya hidup dalam laporan,
sementara mama-mama masih mengungsi,
bayi lahir tanpa pertolongan,
dan honai menjadi abu,
maka keberhasilan perlu kembali diuji
dengan ukuran paling sederhana:
apakah manusia merasa aman di tanahnya sendiri?
Wahai pemerintah,
jangan hanya melihat kami dari helikopter,
sebab jarak membuat penderitaan tampak kecil.
Turunlah, agar engkau memahami;
duduklah, supaya engkau mendengar;
makanlah ubi bersama kami,
bukan karena ubi mampu menjelaskan seluruh penderitaan,
melainkan karena kesediaan berbagi
dapat membuka pintu bagi kemanusiaan.
Sebab keadilan tidak lahir dari janji semata,
melainkan dari keberanian mengakui kenyataan;
sebab perdamaian tidak tumbuh dari pembungkaman,
melainkan dari kesediaan mendengar perbedaan;
dan sebab persaudaraan tidak dibuktikan melalui kata-kata,
melainkan melalui tindakan yang menjaga martabat manusia.
Kami tidak meminta dunia berhenti membangun,
tetapi kami meminta pembangunan berhenti melupakan manusia.
Kami tidak meminta sejarah dihapus,
melainkan meminta sejarah dibicarakan dengan jujur.
Kami tidak meminta belas kasihan sebagai pengganti hak,
melainkan menuntut agar hak diperlakukan
sebagai dasar kehidupan yang bermartabat.
Karena itu, jangan ukur Papua hanya dari emasnya,
sebab kekayaan bukan sekadar apa yang dapat diambil;
melainkan juga apa yang dapat dijaga.
Jangan ukur kemajuan hanya dari megahnya bangunan,
sebab pembangunan bukan sekadar apa yang didirikan;
melainkan juga siapa yang dilindungi.
Pada akhirnya,
di tanah yang disebut kaya ini,
meskipun bumi menyimpan berjuta kekayaan,
jika keadilan masih terasa asing,
maka kemiskinan terbesar bukanlah ketiadaan harta,
melainkan ketiadaan keberpihakan.
Sebab pada saat kekuasaan mampu menghitung kekayaan,
tetapi gagal menghitung air mata,
di situlah kita harus kembali bertanya:
apakah yang sedang dibangun adalah kesejahteraan,
atau sekadar kemegahan yang kehilangan kemanusiaan?
Bengkulu, 11 Oktober 2026
Penulis: Yosafat Wirtel