Wahai anjing kesayangan Konoha,
bagaimana kabarmu di singgasana kehormatan?
Semoga tidurmu tetap nyenyak,
meski tanah yang kau pijak
menyimpan jeritan yang tak pernah selesai.
Pernahkah kau bertanya kepada nuranimu,
sebelum tepuk tangan membuatmu tuli?
Pernahkah kau menatap wajahmu di cermin,
lalu bertanya kepada manusia di dalam dirimu:
“Untuk siapa sebenarnya aku berdiri?”
Kau berlari mengejar sesuap nasi,
lalu pulang membawa gelar kehormatan.
Kau mengira dirimu telah menjadi besar,
padahal ada sesuatu yang kian mengecil—
keberanianmu menyebut kebenaran
ketika kebenaran mengetuk pintu kekuasaan.
Di bawah langkahmu,
ada darah kakakmu,
ada air mata adikmu,
ada doa kakek dan nenekmu,
ada saudara-saudaramu
yang merindukan tanahnya kembali menjadi rumah,
bukan tempat menyimpan ketakutan.
Wahai anjing kesayangan Konoha,
siapa yang sebenarnya sedang kau jaga?
Tangan yang memberimu makan,
atau tanah yang memberimu kehidupan?
Sebab perut mungkin kenyang oleh jabatan,
tetapi bagaimana kau mengenyangkan nurani
ketika saudaramu sendiri kehilangan kedamaian?
Jangan mengira tanah telah lupa.
Akar menyimpan cerita,
sungai membawa kesaksian,
gunung memeluk nama-nama
yang tak sempat pulang ke rumah.
Dan Tuhan—
jika kau masih menyebut nama-Nya dalam doa—
tidak membutuhkan jabatanmu
untuk mengetahui isi hatimu.
Sebab pengkhianatan paling sunyi
bukanlah ketika musuh berdiri di seberang,
melainkan ketika saudara sendiri
berdiri di atas luka keluarganya
lalu menyebutnya sebagai pengabdian.
Ooo, Papua sayangku…
Tanah yang kaya,
tetapi terlalu sering dipaksa menelan air mata.
Tanah yang melahirkan anak-anak pemberani,
tetapi kadang menyaksikan anaknya sendiri
lupa kepada rahim tempat ia dilahirkan.
Kelak, ketika tepuk tangan berhenti,
ketika jabatan kehilangan nama,
dan ketika sejarah membuka kembali lembarannya,
tak seorang pun dapat bersembunyi
di balik gelar atau seragam kehormatan.
Sebab waktu akan bertanya,
tanah akan mengingat,
dan nurani akan menagih jawaban:
Ketika Papua terluka,
kau berdiri di sisi siapa?
Sebab menjadi besar bukan tentang seberapa tinggi seseorang duduk di singgasana, melainkan seberapa teguh ia berdiri ketika tanah dan saudaranya membutuhkan pembelaan.
Penulis; Emanuel Tebai
Redaksi; Anderian Kamo