Mereka datang membawa kata aman, menawarkan teduh di tengah hujan, menyediakan kursi ketika kita kelelahan, lalu perlahan menentukan di mana kita boleh duduk dan ke mana kita tak boleh berjalan.
Katanya, semua demi kebaikan. Katanya, semua demi ketenangan. Namun, mengapa setelah pintu dibukakan, kita justru takut meninggalkan ruangan?
Ada tangan yang memberi pertolongan, tetapi diam-diam menghitung balasan. Ada senyum yang terasa tulus, tetapi menyimpan harapan agar kita terus patuh. Ada kasih yang tampak seperti rumah, namun perlahan berubah menjadi pagaryang tak pernah kita sadari sejak awal.
Begitulah kadang kehidupan berjalan: kita diberi payung, lalu diminta mengikuti arah pemegangnya. Kita diberi jalan, lalu dilarang memilih persimpangannya. Kita diberi suara, tetapi hanya selama suara itu tidak mengganggu telinga penguasa.
Betapa halus cara kebebasan kehilangan bentuknya; tak selalu dirampas, kadang diserahkan karena kita terlalu takut kehilangan pemberian.
Mula-mula kita hanya diminta mengerti, kemudian diminta menuruti, lalu belajar membungkam diri sendiri. Sampai akhirnya, kita menyebut ketakutan sebagai kewaspadaan, ketergantungan sebagai persahabatan, dan kepatuhan sebagai kedamaian.
Di tanah yang pernah mengenal penjajahan, rantai tak selalu terbuat dari besi. Kadang ia berupa utang budi, kadang berupa bantuan yang mengikat hati, kadang berupa aturan yang tak memberi ruang bertanya, dan kadang berupa tuduhan yang membuat kebenaran takut menampakkan wajahnya.
Kita mungkin telah mengganti nama jalan, mengibarkan bendera di halaman, dan menyebut diri merdeka di hadapan dunia. Namun, apa arti kemerdekaan jika pikiran masih meminta izin sebelum berani menyatakan kebenaran?
Aku tak membenci tangan yang menolong, aku hanya ingin pertolongan tanpa belenggu. Aku tak menolak ketenangan, aku hanya ingin damai tanpa dibungkam. Aku tak memusuhi aturan, aku hanya ingin keadilan yang tak memilih siapa yang boleh dilindungi.
Sebab manusia bukan burungyang cukup diberi sangkar berlapis emas. Kami membutuhkan langit, tempat sayapnya bebas menentukan arah. Kami membutuhkan rumah, tanpa harus menyerahkan seluruh suaranya. Kami juga membutuhkan kasih, tanpa menjadikan kebebasan sebagai harga.
Maka, jika suatu hari kau datang membawa keamanan, jangan hanya tanyakan apakah kami sudah tenang. Tanyakan juga apakah kami masih berani berbicara, masih mampu berkata tidak, masih bebas memilih jalan, dan masih memiliki keberanianuntuk mengoreksi mereka yang berkuasa.
Sebab ketenangan yang lahir dari ketakutan hanyalah kesunyian yang dipelihara. Dan pelukan yang menuntut kepatuhanbukan selalu tempat pulang; kadang ia hanyalah pagar yang dibangun dari rasa berutang.
Aku ingin hidup dengan aman, tanpa harus takut untuk menjadi diriku sendiri. Aku ingin menerima kebaikan, tanpa kehilangan hak untuk berbeda. Aku ingin berdamai dengan dunia, tanpa menyerahkan kemerdekaan berpikir kepada siapa pun yang mengaku paling tahu apa yang terbaik bagi hidupku.
Karena kebebasan yang sejati bukan ketika kita boleh berjalan ke mana saja, melainkan ketika kita tidak dipaksa berjalan ke arah yang ditentukan orang lain.
Jakarta, 18 Oktober 2026
Penulis: ANDERIAN KAMO