Malam itu, Honai IKMAPAL tidak sedang menjadi tempat untuk membicarakan sesuatu yang besar. Tidak ada panggung, tidak ada mikrofon, dan tidak ada sorotan lampu. Hanya beberapa orang yang duduk melingkar, ditemani udara malam dan aroma kopi yang perlahan memenuhi ruangan.
Di tengah kesederhanaan itu, seseorang menuangkan kopi ke dalam beberapa cangkir. Tidak ada yang bertanya siapa yang paling penting. Tidak ada yang menghitung siapa yang paling banyak berbicara. Semua menerima cangkir yang sama, kemudian duduk bersama dalam suasana yang sederhana.
Kopi bukan hanya minuman saja. Tetapi Ia menjadi simbol kebersamaan kita, ketika kita duduk bersama dan berbincang tanpa memandang waktu.
Malam semakin larut, tetapi percakapan justru semakin hidup. Ada cerita tentang perkuliahan, organisasi, keluarga, masa depan, bahkan tentang kerinduan terhadap tanah Papua.
Dari satu topik berpindah ke topik lainnya, dan tanpa disadari, secangkir kopi telah menjadi jembatan yang mempertemukan banyak pikiran.
Kopi juga melambangkan persahabatan, karena dari secangkir kopi sering lahir obrolan yang mempererat hubungan dan menghadirkan rasa kekeluargaan dan kekompakan kita di honai Ikmapal itu.
Seseorang tertawa. Yang lain menimpali dengan cerita. Ada pula yang hanya diam sambil mendengarkan. Namun, diam tidak selalu berarti tidak hadir. Kadang-kadang, seseorang hadir justru melalui kesediaannya untuk mendengar.
Di situlah kami memahami bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan percakapan yang luar biasa. Kadang, kebersamaan hanya membutuhkan tempat untuk duduk, waktu untuk berbagi, dan hati yang bersedia menerima kehadiran orang lain.
Di saat malam yang tenang pun, kopi menghadirkan ketenangan, bertukar pikirang, menjadi teman untuk menikmati suasana santai dan damai. Dari percakapan yang sederhana, lahir pemikiran yang lebih dalam. Kami mulai berbicara tentang tanggung jawab, tentang organisasi, tentang pendidikan, tentang perjuangan mahasiswa, dan tentang masa depan.
Malam itu mengajarkan bahwa pikiran tidak selalu tumbuh di ruang seminar. Kadang, gagasan justru lahir dari meja sederhana, dari percakapan yang tidak direncanakan, dan dari keberanian untuk saling mendengarkan.
Di balik itu, kopi juga menggambarkan perjuangan dan semangat, menemani langkah panjang, menjaga mata tetap terjaga, serta menguatkan diri dalam menyelesaikan setiap tanggung jawab.
Ada yang sedang mengejar tugas kuliah. Ada yang sedang memikirkan agenda organisasi. Ada yang sedang menghadapi persoalan pribadi. Namun, tidak seorang pun benar-benar berjalan sendirian malam itu. Setidaknya, ada secangkir kopi dan beberapa kawan yang menjadi saksi bahwa perjalanan panjang akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama.
Kemudian seseorang berkata pelan, “Mungkin kita sering mencari sesuatu yang besar untuk merasa bahagia.”
Kami terdiam.
Ia melanjutkan, “Padahal, mungkin kebahagiaan ada di sini.”
Ia menunjuk meja kecil di tengah kami.
Kopi itu juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan—bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah. Terkadang, cukup secangkir kopi, tempat yang sederhana, dan orang-orang yang tepat.
Kalimat itu membuat kami kembali melihat cangkir masing-masing. Kopi yang sebelumnya hanya dianggap sebagai minuman tiba-tiba memiliki makna yang berbeda. Ia menjadi simbol bahwa kehidupan tidak selalu membutuhkan kemewahan untuk menjadi berarti.
Sebab sesuatu yang sederhana dapat menjadi berharga ketika di dalamnya terdapat kebersamaan.
Waktu terus berjalan. Kopi mulai habis. Percakapan perlahan mereda. Beberapa orang mulai bersiap untuk pulang. Namun, tidak ada yang benar-benar ingin malam itu segera berakhir.
Kami sadar bahwa suatu hari nanti, mungkin kami tidak akan lagi duduk di tempat yang sama. Kesibukan akan membawa kami ke jalan masing-masing. Ada yang lulus, ada yang bekerja, ada yang pulang ke Papua, dan ada yang melanjutkan perjalanan ke tempat lain.
Akan tetapi, kenangan tidak selalu membutuhkan tempat yang sama untuk tetap hidup.
Dan pada akhirnya, kopi adalah tentang cerita. Setiap tegukan, setiap obrolan, setiap tawa, dan setiap pertemuan akan menjadi kenangan yang inda dan suatu saat ingin kita ulang kembali.
Malam itu akhirnya selesai. Cangkir-cangkir diletakkan kembali. Kursi dirapikan. Lampu perlahan dimatikan.
Namun, sesuatu tetap tinggal.
Bukan kopinya.
Bukan meja tempat kami duduk.
Melainkan cerita tentang orang-orang yang pernah berkumpul dalam kesederhanaan dan menemukan makna dalam kebersamaan.
Karena di balik secangkir kopi itu, selalu ada kebersamaan, kekompakan, persahabatan, perjuangan, kesederhanaan, dan cerita yang tak ternilai di Honai IKMAPAL.
Dan mungkin, itulah filosofi sederhana dari secangkir kopi:
“Kopi dapat habis dalam satu malam, tetapi kebersamaan dapat tinggal dalam ingatan seumur hidup.”
Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah tempat menjadi rumah bukanlah dindingnya, melainkan manusia yang pernah duduk bersama di dalamnya.
Dan malam itu, kami tidak hanya minum kopi.
Kami sedang menyeduh persahabatan, merawat kekeluargaan, dan menulis sebuah kenangan di Honai IKMAPAL.
Penulis; Yusup Gane
Lampung, 27 Agustus 2026