Di tengah derasnya gelombang dunia,
masih tersisa secercah harapan
yang diam-diam datang dari langit,
dari roh para leluhur
dan tulang-belulang bangsa ini.
Entah melalui mimpi,
atau lewat sekilas penampakan
dan fenomena alam,
mereka berusaha mengingatkan
para pemilik pulau ini
dengan caranya sendiri.
Mungkin aku akan menjadi
salah satu dari mereka
yang tak pernah berhenti memikirkan
nasib tanah ini,
tanah yang terus dikeruk
oleh kerakusan manusia,
oleh mereka yang berdiri
di atas kekuasaan dan kapital.
Akankah suara burung cenderawasih
masih dapat kudengar dengan nyata….?
Ataukah suara itu
telah perlahan menghilang,
meninggalkan telingaku
sebagai tempat terakhir
untuk merayakan kenangan
akan kicau yang pernah hidup…?
Kelak, akan kuceritakan kepada generasi
bahwa dahulu masih ada suara
suara burung, suara hutan,
suara angin yang menyapa pepohonan.
Namun semuanya perlahan sirna,
terbawa oleh deru zaman,
Yang tersisa hanyalah suara ekskavator
dan letusan senjata
yang memecah keheningan tanah leluhur.
Bumi, manusia,
dan seluruh ceritanya
kini sedang berubah menjadi misteri.
Pulau Kasim, 7 Oktober 2026
Provinsi Papua Barat Daya