Di tanah Papua, saya belajar dari petani yang menanam ubi di antara bebatuan, merawat kebun di bawah kabut, dan menunggu hasil tanpa pernah memaksa musim untuk berpihak kepadanya. Dari tanah, aku memahami keteguhan; dari ibu, saya mengenal kesetiaan; dan dari kehidupan, saya belajar bahwa tidak semua yang dirawat akan tumbuh sebagaimana harapan. Kamu memilih “pergi” dengan alasan bapa, sedangkan sa memilih “bertahan” dengan nilai yang ibu tanamkan. Namun, semakin saya memikirkan kepergianmu, semakin aku memahami bahwa cinta bukan ruang pengadilan tempat seseorang harus selalu dinyatakan bersalah. Setiap manusia memiliki sejarah, alasan, dan kebebasan untuk menentukan arah hidupnya. Saya tidak harus membenci jalan yang Kamu pilih hanya karena jalan itu tidak lagi menuju aku.
Tetapi, dalam penyelidikan batin ini, saya juga harus berani memeriksa diriku sendiri: apakah kesetiaan yang aku pertahankan masih menjadi kekuatan, atau justru telah berubah menjadi penjara bagi hati sa sendiri? Sebab, mencintai seseorang tanpa batas bukan selalu tanda ketulusan; terkadang, keberanian terbesar justru terletak pada kemampuan mengenali batas antara memperjuangkan cinta dan mengabaikan harga diri.
Dari ibu, saya belajar setia. Dari tanah Papua, saya belajar bertahan. Dari kebun, aku belajar merawat. Dan dari kepergian Kamu, Aku belajar bahwa cinta yang tulus tidak harus berakhir dengan kebencian, sementara kesetiaan yang bermartabat tidak harus berakhir dengan kehilangan diri sendiri.
Pada akhirnya, saya tidak ingin menghabiskan hidup untuk mencari siapa yang salah atas runtuhnya sebuah harapan. Sa hanya ingin memahami apa yang sesungguhnya terjadi, menerima apa yang tidak dapat aku kendalikan, dan memperbaiki apa yang masih dapat saya tumbuhkan. Seperti petani yang kembali menanam setelah musim gagal panen, aku akan kembali menjalani kehidupan bukan karena luka telah hilang seluruhnya, melainkan karena masa depan tetap layak diperjuangkan.
Sebab, tidak semua kepergian harus berakhir dengan penghakiman, tidak semua kehilangan harus melahirkan kebencian, dan tidak semua kesetiaan harus dibuktikan dengan menunggu selamanya. Ada kalanya, bentuk cinta yang paling dewasa adalah membiarkan seseorang memilih jalannya, sembari tetap setia pada nilai-nilai yang menjaga kita menjadi manusia.
“Jangan sampai dalam usahamu membuktikan kesetiaan kepada seseorang, engkau justru mengkhianati dirimu sendiri. Sebab, cinta boleh kehilangan tempat untuk pulang, tetapi manusia tidak boleh kehilangan alasan untuk terus bertumbuh.”
JAKARTA, 10 Oktober 2026
Penulis; Anderian Kamo