Di tengah krisis ekonomi global dan lokal yang semakin menekan kehidupan masyarakat,seperti di kuyawagai, puncak jaya, puncak papua, Deiyai, dan papua pada umumnya, maka (kompass) komunitas mahasiswa papua se-Sumatera kembali hadir sebagai bagian dari kekuatan rakyat. Ketika kebutuhan hidup masyarakat semakin mahal dan masyarakat harus berjuang mempertahankan kehidupannya.
mahasiswa tidak hanya berbicara di ruang-ruang akademik, serta mengkritik kebijakan pemerintah lewat demontrasi, namun turut memberikan sumbangan melalui gerakan sosial, pengabdian, solidaritas, dan keberpihakan kepada masyarakat tanpa kedudukan dan jabatan dalam kepemerintahan serta wakil rakyat. Walaupun sumbangan tersebut hasil daripada mengamen di setiap persimpangan jalan tentu akan ada manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Ironisnya, dalam situasi tersebut, muncul kritik bahwa pemerintah Indonesia (papua) seolah hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan yang dihadapi rakyat. Kritik ini mencerminkan kekecewaan masyarakat terhadap respons pemerintah yang dinilai belum cukup menjawab tekanan ekonomi yang mereka rasakan.
Namun, mahasiswa tidak hanya berhenti pada kritik tetapi juga Mahasiswa tetap menjadi kekuatan moral dan intelektual yang berdiri bersama rakyat. Sebab, ketika rakyat sedang menghadapi kesulitan, ilmu pengetahuan mahasiswa menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan masyarakat walau sekalipun tanpa kedudukan yang jelas.
Mahasiswa bukan sekadar tulang punggung perubahan, tetapi juga bagian dari denyut kehidupan rakyat. Ketika negara dituntut hadir, mahasiswa memilih untuk tidak diam.
Dan mahasiswa Menjadi tulang punggung rakyat bukan berarti mahasiswa harus menggantikan peran negara dan pemerintah papua, melainkan menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menopang kehidupan sosial melalui pendidikan, pengabdian, advokasi, solidaritas, dan keberanian menyuarakan persoalan rakyat.
Sebab ilmu yang hanya tersimpan di ruang akademik akan kehilangan maknanya jika tidak memberi manfaat bagi kehidupan. Mahasiswa hadir bukan untuk berdiri di atas rakyat, tetapi berdiri bersama rakyat membaca penderitaan, memahami persoalan, dan memberikan sumbangan nyata bagi perubahan sosial.
Di tengah krisis ekonomi global, keberpihakan mahasiswa kepada rakyat bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral untuk menjaga harapan agar rakyat tetap hidup.
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat Papua, rakyat terus berjuang menghadapi mahalnya kebutuhan hidup, keterbatasan lapangan pekerjaan, dan berbagai persoalan sosial yang belum terselesaikan. Di tengah keadaan tersebut, muncul keresahan bahwa pemerintah Papua seakan hanya menjadi penonton setia atas kesulitan yang dialami rakyat.
Sementara rakyat berusaha bertahan dengan segala keterbatasan, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil turut mengambil peran melalui solidaritas, pengabdian, serta berbagai bentuk aksi sosial. Mereka berusaha mengisi ruang-ruang yang dianggap belum sepenuhnya dijangkau oleh kebijakan pemerintah papua.
Krisis ekonomi seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat keberpihakan kepada masyarakat, memastikan kebijakan benar-benar menyentuh kehidupan rakyat, dan membuka ruang partisipasi yang lebih luas.
Rakyat tidak membutuhkan pemerintah yang hanya menyaksikan dari kejauhan. Rakyat membutuhkan pemerintah yang hadir, mendengar, bekerja, dan berjalan bersama mereka.
BUMI RAFLESIA (Prov. Bengkulu)
MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026
FRATER KANIBAL